Desa Deyangan merupakan suatu wilayah yang terletak diantara dua  Sungai besar yaitu   Sungai Progo di sebelah Barat dan Sungai Elo disebelah Timur. Konon menurut cerita dan sumber yang dapat dipercaya juga diyakini kebenarannya dari  para sesepuh dan tokoh masyarakat setempat bahwa sejarah munculnya nama  Deyangan diawali dari Zaman Raja Wangsa Saylendra dimana pada waktu itu disalah satu tempat  diwilayah Desa Deyangan tepatnya di sebelah selatan Dusun Banar (sekarang menjadi Makam Dusun Banar) kala itu dijadikan Tempat pertemuan bagi para Resi dan Biksu untuk  musyawarah  perencanaan pembangunan Candi Borobudur.

     Tempat musyawarah bagi para resi dan biksu menurut bahasa Sanskerta dinamakan Deheyang, dari mengambil  kata Deheyang yang berarti tempat untuk bermusyawarah para resi dan Biksu tersebut, maka para tokoh masyarakat dan sesepuh  pada waktu itu telah bersepakat bahwa apabila nanti sampai pada rejaning zaman daerah ini akan dinamakan  Deyangan, yang artinya tempat untuk bermusyawarah,.Maka dari pertimbangan sejarah tersebut nama Deyangan tidak hanya menjadi nama salah satu dusun melainkan diresmikan menjadi nama Desa DEYANGAN  sampai sekarang.

     Fakta sejarah yang telah diperoleh dari para sesepuh dan tokoh masyarakat sekitar lokasi Deheyang tersebut telah banyak dijumpai peninggalan benda benda purbakala seperti Lingga prasasti setinggi 112cm sampai sekarang masih utuh, sebuah Yoni , sebuah patung Lembu Andani dan sebuah stupa,

     Benda benda peninggalan tersebut ditemukan pada tahun 1927 oleh penduduk dusun Banar yang bernama : Muh.Yusam, Syahroni dan Rochmat yang sekarang sudah almarhum sedang yang sekarang masih hidup adalah Mbah Kuwangit.          

     Dari mbah Kuwangit itulah bisa digali beberapa informasi lebih banyak lagi antara lain benda benda purbakala yang dapat ditemukan lagi disekitar lokasi itu  seperti Kendogo Perunggu  , sebuah Kenteng Wingit dan dua buah patung Syiwa dan Durga yang menurut masyarakat sekitar dinamakan boneka lanang wadon. Benda benda purbakala tersebut menurut kabar setiap malam selalu terjadi hal-hal yang aneh dan menakutkan seakan akan benda tersebut  dikuasai makluk halus maka dengan kesepakatan para sesepuh benda benda purbakala tersebut diserahkan kepada Raden Tjokrowinarso seorang bangsawan cucu dari Penatus Raden Reso Menggolo di Dusun Pandeyan yang tidak jauh dari Dusun Banar , baru pada tahun 1983 barang barang purbakala tersebut diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Magelang yang selanjutnya disimpan di Musium Purbakala Borobudur.

     Selain  ditemukannya barang barang pubakala tersebut diatas telah ditemukan pula petilasan untuk bertapa yaitu sebuah Goa kecil dibalik air terjun  yang tidak jauh dari tempat ditemukannya benda benda purabakala tersebut dan sampai saat ini goa itu masih ada dan dimungkinkan didalamnya masih terdapat benda benda purbakala lainnya namun karena tempat tersebut dimitoskan sebagai tempat yang keramat dan angker sehingga tidak ada satu orangpun yang berani mendekat kesitu apalagi masuk kedalam goa, dan selain angker pada saat ini goa tersebut tertutup semak belukar dan rumpun bambu.          

     Pada tahun 1827 menurut cerita tempat pertapaan/Goa kecil tersebut sering dijadikan tempat persembunyian bagi pengikut Pangeran Diponegoro yaitu Kyai Jogorogo berserta dua orang muridnya yaitu Kyai Nurrochim yang telah menurunkan putra ulama besar bernama Kyai Manap pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur, sedang yang satunya tidak diketahui pasti namanya hanya orang menyebutnya Kyai Deheyang yang salah satu  cucunya bernama MUH SALI pada tahun 1946 telah gugur dimedan perang melawan penjajah dan namanya diabadikan disebuah patung perjuangan yang dibangun dipertigaan masuk Desa Deyangan.

     Bukti lain yang meyakini bahwa diwilayah  Deyangan ini menyimpan misteri sejarah asal mulanya perencanaan pembangunan Candi Borobudur adalah telah ditemukanya pula lokasi tempat pembuatan/patung yaitu diwilayah Dusun Nglerep sekarang tempat itu diberi nama Ngreco yang artinya tempat pembuatan Arca lokasinya didepan SMA Negeri Kota Mungkid, sebagai petunjuk bahwa dilokasi itu pernah dijadikan tempat pembuatan arca karena ditempat ini telah banyak ditemukan sisa-sisa arca, konon menurut cerita mengingat dalam pembangunan candi Borobudur diperlukan banyak batu yang dibuat arca, maka tempat pembuatan arca selain di wilayah Banar ( dekat Sungai Elo ) juga dibuat di Ngerco. ( dekat Sungai Progo). Penemuan benda-benda Prasasti inipun pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat Edisi Rabu Pon 12 Juli 1978 ( 6 Ruwah 1910).